Wednesday, 19 June 2013

Sapta Pesona

Sapta Pesona



1.  Aman seperti tidak mengganggu kenyamanan wisatawan

2.  Tertib seperti mewujudkan budaya antri

3.  Bersih seperti turut menjaga kebersihan sarana dan lingkungan Objek Wisata

4.  Sejuk seperti memelihara penghijauan di objek dan daya tarik wisata

5.  Indah seperti menata tempat tinggal dan lingkungan secara teratur, menjaga karakter  kelokalan.

6.  Ramah seperti bersikap sebagai tuan rumah yang baik, siap membantu wisatawan kapanpun diperlukan.

7.  Kenangan seperti menyediakan cinderamata yang menarik, unik, khas serta mudah dibawa dan harga yang wajar.

Friday, 31 May 2013

KERAJINAN SARUNG SAMARINDA



KERAJINAN SARUNG SAMARINDA

 Alat Tenun Tradisional (Gedokan)

Samarinda sebagai ibukota propinsi Kalimantan Timur menyimpan beragam potensi wisata. Salah satunya adalah di sektor wisata kerajinan yang berada di daerah Samarinda Seberang yaitu Kampung Tenun Sarung Samarinda.

Sarung Samarinda ini merupakan salah satu kerajinan tangan khas Samarinda. Sarung Samarinda adalah jenis kain tenunan tradisional khas Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Sarung ini dibuat dengan cara ditenun dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang disebut Gedokan. Produk yang dihasilkan untuk satu buah sarung memakan waktu hingga berminggu-minggu, tak heran bila harga sarung samarinda tenun bisa mencapai ratusan ribu rupiah. 

            Lokasi pengrajin sarung Samarinda terletak di Gang Pertenunan Rt.02 di Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang. Daerah ini menjadi sentral kerajinan tenun Sarung Samarinda dan pada pertengahan bulan Maret 2012 lalu, kawasan ini dicanangkan sebagai percontohan Kampung Pengrajin untuk dijadikan tujuan wisata nasional. Di kawasan ini, pengunjung dapat berwisata dengan melihat langsung proses pembuatan tenun Sarung Samarinda, sambil membeli sarungnya sebagai buah tangan.

            Saya sebagai warga Samarinda asli bingung dengan anak muda di Samarinda banyak yang tidak tau kerajinan sarung Samarinda dimana lokasinya, jangan tempat pembuatannya bentuk sarung samarinda yang asli aja tidak tau apa lagi jenis-jenis sarung Samarinda yang mereka tau buah tangan khas Samarinda hanya Amplang.

Walaupun saya tidak tau persis sejarah “Sarung Tenun Khas Samarinda” tapi saya sering baca dan cari informasi bagaimana sejarah sarung Samarinda.

            Menurut vivaborneo.com pada mulanya kerajinan sarung tenun ini dibawa sama orang-orang Bugis dari Sulawesi yang tinggal di pesisir sungai Mahakam (sekarang Samarinda Seberang). Rata-rata para pengrajin sudah tiga puluh tahunan bermukim di kompleks sini dan turun temurun meneruskan usaha sarung tenun keluarga.

            Dari prosesnya sendiri, bahan baku sarung tenun yaitu benang sutra yang diimpor langsung dari Cina harus di olah dulu supaya kuat. Pertama-tama benang harus direndam di air selama kurang lebih 3x24 jam. Terus hasilnya jadi begini deh.
           
Benang Sutra Yang Telah di Rendam
 
                Kemudian benang di masak dengan air mendidih yang sudah dicampurkan pewarna sekitar dua jam. Benang dicuci hingga bersih, terus dikanjiin. Setelah diperas, benang dijemur sampe kering dan siap untuk dipintal untuk menjadi benang tenun.

Benang Yang Sudah dikasih Warna
          Selanjutnya ribuan benang pintalan dilingkarkan dan dimasukin helai demi helai ke dalam sebuah alat besar dari kayu yang bernama are dan sisir. Bisa memakan waktu satu sampe dua hari pemasangan benangnya ini. Dan proses penenunannya menjadi sebuah sarung ngebutuhin waktu dua atau tiga hari. Paling lama proses pembuatan Sarung Tenun Samarinda ini dua minggu, tergantung bagaimana motif yang dipengenin.

 
Hasil Jadi Sarung

          Yang pernah saya dengar juga bagi mereka yang pengen pesen dengan motif sarung yang beda, bisa langsung aja datang kepengrajinnya langsung. Harga juga juga ikutin bagaimana motif yang di pengenin semakin rumit motifnya semakin mahal juga harganya, ada yang perlu di ingat nih kalo pengeng pesan dengan motif yang beda harus sabar antri bisa sampe satu bulan lebih.

Rata-rata dalam satu bulan setiap penenun bisa menghasilkan 2 atau 3 sarung tenun, yang punya kisaran harga mulai dari Rp. 300.000,- sampe Rp. 600.000,- per buahnya.

        Nih, kemeja kotak-kotak kan lagi happening banget di kalangan anak muda. Setelah saya Tanya, satu kemeja gini harganya nyampe 300 ribuan.Mungkin karena handmade kali ya makanya mahal banget. 

 Hasil Jadi Kemeja



 Namanya juga karya seni asli yang di buat secara manual bukan pake mesin (ATBM) ya wajar aja mahal kita juga harus menghargai karya seni yang begitu luar biasa belum tentu kita bisa buat sendiri ya kan !!!! 

Lestarikan & budayakan terus kerajinan sarung Samarinda yang kita punya sebelum di ambil sama Negara tetanggga.




Tuesday, 28 May 2013

Sejarah Kota Samarinda

Sejarah Kota Samarinda


Secara yuridis Kota Samarinda terbentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1959.
Patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda adalah catatan sejarah ketika orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi, "Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 Hijriyah". Penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke-320 pada tanggal 21 Januari 1988.
Tanggal 21 Januari 1668 (5 Sya'ban 1070 Hijriyah) adalah hari yang diyakini sebagai awal kedatangan orang-orang suku Bugis Wajo yang kemudian mendirikan pemukiman di muara Karang Mumus.
Kota Samarinda adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Seluruh wilayah kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda dapat dicapai dengan perjalanan darat, laut dan udara. Dengan Sungai Mahakam yang membelah di tengah Kota Samarinda, yang menjadi "gerbang" menuju pedalaman Kalimantan Timur. Kota ini memiliki luas wilayah 718 kilometer persegi[2] dan berpenduduk 726.223 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010), menjadikan kota ini berpenduduk terbesar di seluruh Kalimantan.
            Samarinda yang dikenal sebagai kota seperti saat ini dulunya adalah salah satu wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Di wilayah tersebut belum ada sebuah desa pun berdiri, apalagi kota. Sampai pertengahan abad ke-17, wilayah Samarinda merupakan lahan persawahan dan perladangan beberapa penduduk. Lahan persawahan dan perladangan itu umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan sungai Karang Asam.
            Pada tahun 1668, rombongan orang-orang Bugis Wajo yang dipimpin La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado) hijrah dari tanah Kesultanan Gowa ke Kesultanan Kutai. Mereka hijrah ke luar pulau hingga ke Kesultanan Kutai karena mereka tidak mau tunduk dan patuh terhadap Perjanjian Bongaya setelah Kesultanan Gowa kalah akibat diserang oleh pasukan Belanda. Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.
            Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha pertanian, perikanan dan perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh.
            Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).
`          Sekitar tahun 1668, Sultan yang dipertuan Kerajaan Kutai memerintahkan Pua Ado bersama pengikutnya yang asal tanah Sulawesi membuka perkampungan di Tanah Rendah. Pembukaan perkampungan ini dimaksud Sultan Kutai, sebagai daerah pertahanan dari serangan bajak laut asal Filipina yang sering melakukan perampokan di berbagai daerah pantai wilayah kerajaan Kutai Kartanegara. Selain itu, Sultan yang dikenal bijaksana ini memang bermaksud memberikan tempat bagi masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kutai akibat peperangan di daerah asal mereka. Perkampungan tersebut oleh Sultan Kutai diberi nama Sama Rendah. Nama ini tentunya bukan asal sebut. Sama Rendah dimaksudkan agar semua penduduk, baik asli maupun pendatang, berderajat sama. Tidak ada perbedaan antara orang Bugis, Kutai, Banjar dan suku lainnya.
Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan Samarenda atau lama-kelamaan ejaan Samarinda. Istilah atau nama itu memang sesuai dengan keadaan lahan atau lokasi yang terdiri atas dataran rendah dan daerah persawahan yang subur. 

Batas-batas wilayah

Dengan luas wilayah 718 km², Samarinda terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat di antara 0°21'81"–1°09'16" LS dan 116°15'16"–117°24'16" BT.

Kota Samarinda memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
Utara
Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara
Selatan
Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara
Barat
Kecamatan Tenggarong Seberang dan Muara Badak di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Timur
Kecamatan Muara Badak, Anggana, dan Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Berikut ini adalah daftar wali kota atau kepala daerah yang pernah menjabat di Samarinda sejak 1960:
Daftar Walikota Samarinda
No
Nama
Awal Masa Jabatan
Akhir Masa Jabatan
Keterangan
1.
Kapten Soedjono AJ
1960
1961
-
2.
Letkol Ngoedio BcHK
1961
1967
-
3
H.M. Kadrie Oening
1967
1974
-

H.M. Kadrie Oening
1974
1980
-
4.
Drs. H. Anang Hasyim
1980
1985
-
5.
Let.Kol. Iswanto Rukin
11 Februari 1985
7 Maret 1985
Meninggal pada saat baru menjabat
6.
Drs. H.A. Waris Husain
1985
1990
-

Drs. H.A. Waris Husain
1990
1995
-
7.
Kolonel H. Lukman Said
1995
2000
-
8.
Drs. H. Achmad Amins, MM
2000
2005
-

Drs. H. Achmad Amins, MM
2005
2010
-
9.
H. Syaharie Jaang, SH., MSi
23 November 2010
Masih Menjabat
-